1/18/10

Studi kalimat dianggap sangat penting dilakukan untuk mencapai kemahiran berbahasa atau mengarang. Unsur terkecil dalam berbahasa sehari-hari adalah kalimat bukan kata-kata. Kata-kata hanya, menjadi unsur dalam kalimat. Kalau pada suatu waktu waktu pemakai bahasa berurusan dengan aneka bentuk kata maka hal ini dilakukan karena berkaitan dengan proses pembentukan kalimat. Dengan kalimat-kalimatlah kita melakukan kegiatan tukar-menukar pikiran dengan orang lain.
Nah…berikut ini akan dikemukakan tentang dasar-dasar pembentukan kalimat.Intip donk……..^-^


BAB IX
DASAR-DASAR PEMBENTUKAN KALIMAT

Bahasa yang baik, benar, dan tepat pada hakikatnya terwujud pada pembentukan atau pemakaian kalimat. Kita yang ingin mahir berbahasa (mengarang) hendaknya terlebih dahulu memiliki kecakapan menetukan ujaran (bentuk ketatabahasaan) yang berkriteria kalimat dan yang bukan kalimat. Kemampuan mengenal dan menggunakan berbagai ragam kalimat yang ada dalam bahasa patut dimiliki.

Satuan kalimat
Satuan kalimat meliputi kata, frasa, klausa, dan kalimat. Berikut ini akan diuraikan secara singkat bagian dari kalimat-kalimat tersebut.

Pengertian kata.
Dalam kegiatan berbahasa (kalimat), kata merupakan kesatuan kata yang terkecil, namun dalam suatu penuturan atau penulisan memegang peranan yang sangat penting. Penguasaan sejumlah kosakata bagi setiap pemakai bahasa sangat menentukan dalam keguatan berbahasa. Makin banyak kosakata yang dimiliki seseorang, makin terdapat kemungkinan untuk dapat berkomunikasi secara lebih baik dan lebih lancar.
Kata-kata yang bertugas dalam ssuatu pengungkapan dalam suatu penuturan atau penulisan masing-masing bekerja sama secara erat, mengungkapkan dengan tepat maksud dan tujuan penutur atau penulis. Yang jelas masing-masing kata tidak mempertahankan makna leksikalnya, tetapi bahu-membahu dalam satu makna struktural yang utuh.
Pengertian frasa
Frasa atau kelompok kata adakal suatu kalimat yang lebih besar dari pada kata atau lebih kecil dari pada kalimat.
Misalnya : kuda putih itu sedang makan rumput
Kuda putih itu (frasa)
Sedang makan rumput (frasa)
Kelompok kata yang termasuk frasa harus dibedakan dengan kelompok kata yang disebut kata majemuk. Pada kata majemuk hubungan komponen yang ada tidak dapat disela, atau dikembangkan, sedangkan pada frasa dapat disela atau dikembangkan.
Misalnya :         Orang sakit (frasa)
Rumah sakit (kata majemuk)
Pengertian klausa
Klausa adalah satuan kalimat yang berupa sebuah kalimat atau bagian sebuah kalimat yang memenuhi salah satu pola dasar kalimat inti dengan dengan dua atau lebih unsur pusat. Pola dasar kallimat inti yaitu kalimat tunggal yang merupaka klausa tunggal. Sedangkan dalam kalimat majemuk terdapat dua atau lebih klausa.
Misalnya : Anak itu mengotori dinding. (klausa tunggal).
Anak itu mengotori dinding dan saya memarahinya.
Klausa I                                       Klausa II
  Ia datang ketika kami sedang makan. (dua klausa)
I                                               II
Perbedaan antara klausa dan frasa adalah klausa merupakan bagian dari kalimat yang lebih besar yang terdiri atas subjek dan predikat, hanya berupa kelompok kata saja.
Pengertian kalimat.
Sebagai langkah awal, kita mempelajari dasar-dasar pembentukan kalimat. Tentu saja hal ini berkaitan erat dengan definisi yang diberikan kepadanya. Definisi kalimat telah banyak dibuat ahli bahasa. Dalam risalah ringkas ini akan dikemukakan satu diantaranya yang dapat dijadikan patokan dalam pembicaraan ini. Dikatakan bahwa kalimat ialah sebuah bentuk ketatabahasaan yang maksimal yang tidak merupakan bagian dari sebuah konstruksi ketatabahasaan yang lebih besar dan lebih luas.
Definisi di atas menunjukan, bahwa sebuah kalimat harus berupa bentuk ketatabahasaan. Artinya, ia harus berupa unsur segmental yang sekurang-kurangnya terdiri atas satu kata. Selain itu, bentuk ketatabahasaan tersebut harus maksimal tidak boleh menjadi bagian atau unsur terkecil dari suatu kontruksi suatu ketatabahasaan yang lebih besar dan lebih luas dari padanya. Dengan kata lain, sebuah bentuk ketatabahasaan dalam bahasa lisan berupa ujaran, baru dapat dikatakan kalimat, apabila ia secara mandiri menyatakan suatu keputusan pengertian. Maknanya harus lengakap. Itulah sebabnya sebuah kalimat harus berintonasi akhir dan dan berlatar belakang situasi kebahasaan yang tepat.
Untuk memperjelas permasalahan diatas, marilah kita perhatikan contoh berikut:
1.      Muhatir tidak pergi ke kampus hari ini.
2.      Sakit perutnya.
Kedua kalimat diatas dilihat dari sudut ketatabahasaan sudah merupakan kalimat yang lengkap. Misalnya kalimat (1) terdiri atas tujuh kata, yang struktur jabatannya terdiri atas subjek – predikat – keterangan (s/p/k). Muhatir sebagai (s), pergi sebagai (p), dan ke kampus hari ini masing-masing sebagai (k) tempat dan (k) waktu. Demikian kalimat (2) merupakan kalimat kalimat lengkap karena kedua unsur pembentuknya masing-masing telah menduduki jabatan pokok kalimat, yaitu sakit sebagai (p) dan perutnya sebagai (s). Dengan demikian keduanya telah memberikan keputusan kepada kita. Hal ini berarti baik kalimat (1) maupun (2) memiliki kesanggupan berdiri sendiri sebagai kalimat utuh. Kalimat (1) tidak menjadi bagian terkecil dari kalimat (2), demikian pula sebaliknya. Kalimat (2) bukan elemen terkecil dari kontruksi kalimat (1).

Unsur Pembentuk Kalimat
Pada mulanya kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia, apakah kalimat yang panang atau yang pendek, alimat dasar atau kalimat luas, kalimat tunggal atau kalimat majemuk, yang kesemuanya itu dianggaplah sejumlah unsur pembentuk kaliamat. Unsur pembentuk kalimat itu sangant erat hubungannya dengan satuan kalimat. Satuan kalimat itu dapat berbentuk kata, frasa atau klausa yang masing-masing dapat diduduki oleh unsur kalimat, yaitu subjek, predikat, objek atau keterangan tergantung pada fungsi satuan ujaran tersebut. Unsur pembentuk kalimat tersebut tidak terbatas tergantung pada panjang pendek isi pikiran atau gagasan dalam kalimat. Kadang-kadang satu kalimat hanya diduduki oleh satu subjek saja, satu predikat, satu objek, satu keterangan atau gabungan dari sejumlah unsur itu. Dan mungkin pula satu kallimat diduduki oleh dua atau lebih subjek, predikat, objek, dan keterangan, tergantung gagasan yang terdapat dalam kalimat tersebut.
Subjek dan Predikat
Kalimat-kalimat yang digunakan untuk keragaman pikiran dan perasaan dapat dibedakan atas bermacam-macam bentuk tergantung pada sudut penekanannya. Kalimat-kalimat tersebut tersusuna atas sejumlah kata yang merupakan pembentuk kalimat. Kata-kata dalam kalimat mempunyai hubungan fungsional yang masing-masing mempunyai fungsi tertentu dilihat dari keseluruan kalimat tersebut. Bagian kalimat yang menunjukkan fungsi tersebut disebut jabatan kalimat, dan jabatan kalimat itu ada beberapa kata, frasa atau klausa, tergantung panjang pendek pikiran kalimat tersebut.
Dalam garis besarnya jabatan-jabatan tersebut dapat digolongkan atas dua bagian yaitu yang menduduki jabatan sebagai subjek yang bisingkat dengan (S) dan bagian lain mendudukii jabatan sebagai predikat yang disingkat (P). subjek adalah bagian kalimat yang menjadi pokok pembicaraan yang pada umumnya dibentuk dengan kata benda atau perluasannya, dan biasanya ditempatkan pada posisi depan dalam urutan kata yang menyatakan kalimat tersebut.
Dalam situasi lain, subjek dapat juga ditempatkan pada posisi lain tergantung pada bagian mana yang dipentingkan atau yang ditonjolkan. Sedangkan bagian yang menduduki jabatan sebagai predikat berfungsi menjelaskan atau menerangkan keadaan subjek yang dibentuk oleh kata kerja atau kata-kata lain. Dan yang perlu diperhatikan dalam predikat, bahwa predikat tidak selamanya dibentuk oleh kata kerja, melainkan dapat pula diduduki kata benda, kata bilangan atau kata-kata lain.
Contoh:                        1) Pekarangan  luas.
(S)                   (P)
2) Bapak  petani.
(S)              (P)
3) Adik  bermain-main.
(S)             (P)
4) Pak Ahmad  sakit.
(S)                    (P)
5) Buku  lima buah.
(S)            (P)

Kalimat-kalimat diatas adalah kalimat sederhana atau kalimat inti yang dapat diperluas dengan memberikan keterangan atau diperluas kata-katanya menjadi kelompok kata atau menjadi klausa tergantung pada isi pikiran dalam kalimat yang hendak disampaikan oleh penutur atau penulis.
Objek dan Keterangan
Di samping jabatan subjek dan predikat terdapat pula jabatan yang lebih kecil dari pada subjek dan predikat, yaitu yang menjadi objek (O) dari perbuatan yang dinyatakan dalam predikat dan yang memberin keterangan (K) mengenai berbagai hal terhadap predikat. Dengan demikian objek dan keterangan berhibungan langsung dengan predikat, sedangkan predikat (P) berhubungan langsung dengan subjek.
Kalimat inti atau kalimat dasar yang dibangun oleh subjek dan predikat seperti contoh diatas dapat diperluas dengan menambahkan objek (O) atau keterangan (K) tergantunga pada maksud kalimat tersebut. Kalimat yang mempunyai objek dan keterngan disebut kalimat lengkap, sedangkan kalimat yang hanya terdiri atas subjek dan predikat disebut kalimat sempurna.
Perhatikan contoh kalimat berikut:
1). Ibu  memasak  sayur.
(S)    (P)      (O)
2). Adik  menyanyi  dengan suara yang merdu.
(S)     (P)             (K)
3). Kakak  membaca  buku  di kamar depan.
(S)      (P)     (O)       (K)
4). Sudah lama  Pak Ahmad  sakit.
(K)         (S)       (B)
5). Bapak guru  mendengar  suara anak itu  kemarin.
(S)                       (P)                              (O)                              (K)
Penempatan unsur-unsur kalimat dalam struktur bahasa indonesia sangat penting dalam menentukan makna kalimat. Penempatan susunan unsur kalimat bahasa indonesia mempunyai pola umum yang berlaku, sesuai dengan struktur kalimat bahasa indonesia.

Alat-alat Kalimat
Ada empat pokok yang perlu mendapat perhatian dalam pembentukan kalimat. Keempat hal tersebut dalam bahan kuliah ini disebut alat-alat kalimat. Alat-alat tersebut yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Pola urutan kata
Setiap pemakai bahasa tidak boleh seenaknya saja menempatkan kata, melainkan ia harus mengikuti tata urutan tertentu. Perubahan urutan kata dapat merubah makna kalimat, bahkan dapat menghilangkan makana arti sama sekali. Kalimat yang sekurang-kurangnya berdiri atas dua unsur kata, harus diurut menurut pola urutan tertentu yang dibenarkan oleh kaidah bahasa indonesia. Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal pola urutan diterangkan dan menerangkan (DM) dan kadang-kadang ditemukan pola susunan menerangkan diterangkan (MD). Seperti contoh berikut. Tanda asterik atau tanda bintang (*) didepan kalimat menandakan bahwa kalimat yang dimaksud tidak gramatikal.
1.      Dia mengunjungi temannya dengan tergesa-gesa di tempat itu.
2.      Di tempat itu dia mengunjungi temannya dengan tergesa-gesa.
3.      Dengan tergesa-gesa, dia mengunjungi temannya di tempat itu.
4.      Di tempat itu dengan tergesa-gesa dia mengunjungi temannya.
5.      * Dia mengunjungi di tempat itu dengan tergesa-gesa temannya.
6.      * Dia temannya mengunjungi di tempat itu dengan tergesa-gesa.
7.      * Dia di tempat itu mengunjungi dengan tergesa-gesa temannya.
8.      * Temannya dia dengan tergesa-gesa di tempat itu mengunjungi.
Kalimat 1), 2), 3), dan 4) masih gramatikal. Maknanya masih jelas karena pengurutanya masih mengikuti kaidah atau pola urutan yang dibenarkan oleh kaidah bahasa Indonesia. Predikat berupa kata kerja aktif transitif harus selalu diikuti dengan obyek. Lain halnya dengan kalimat 5), 6), 7), dan 8) predikat aktif transitif diikuti dengan obyek dan keterangan.
Perubahan struktur sebuah kalimat dapat dilakukahn dalam batas-batas tertentu tanpa melanggar atau merusak satuan-satuan fungsionalnya. Satuan fungsional (S), (P), maupun (K) harus tetap sekelompok. Perlu kita ingat, bahwa struktur fungsional yang dibenarkan dalam bahasa Indonesia hanyalah S/P/O/K, K/S/P/O, S/K/P/O, P/S, atau P/O/S. selain ini semua pola lain belun dilazimkan atau tidak dibenarkan.
Perhatikan contoh berikut ini:
1.      Dia menanam padi di sawah. (S/P/O/K).
2.      Di sawah dia menanam padi. (K/S/P/O).
3.      Dia di sawah menanam padi. (S/K/P/O).
4.      Menanam dia. (P/O)
5.      Menanam padi di sawah. (P/O/S/K)
Bentuk Kata
Dalam menyusun kalimat harus diperhatikan bentuk katayang terdapat dalam Bahasa Indonesia. Bentuk kata dalam Bahasa Indonesia terdiri atas bentuk dasar/ kata dasar atau kata turunan berupa kata berimbuhan, kata majemuk, dan kata berulang. Perbedaan bentuk kata dalam kalimat dapat mengubah makna struktural kalimat.
Perhatikan bentuk-bentuk berikut:
baca, membaca, dan dibaca dalam kalimat:
1.          Saya membaca buku itu.
2.          Saya baca buku itu.
3.          Buku itu saya baca.
4.          Buku itu dibacanya.
Berjalan dan berjalan-jalan dalam kalimat:
5.          Ia berjalan menelusuri pantai.
6.          Banyak orang berjalan-jalan menelusuri pantai.
Duduk dan duduk-duduk dala kalimat:
7.          Ia duduk seorang diri.
8.          Duduk-duduk saja sejak tadi.
Bandingkan pula bentuk berikut:
9.  Ali memiliki tangga itu.
10.                      Ali menaikkan tangga itu.
11.                      Ali tulis surat.(kalimat tidak baku)
12.                      Ali menulis surat.(kalimat baku)

Intonasi Dan Tanda Baca
Intonasi dipakai atau dipergunakan dalam bahasa lisan, sedangkan dalam bahasa tulisan menggunakan tanda baca. Intonasi dapat menandai batas satuan kalimat dan membedakan makna struktural dalam rangkaian bunyi. Dengan intonasi kita dapat mengetahui apakah kita menghadapi pertanyaan, perintah, larangan dan sebagainya. Unsur intonasi bekerja besama-sama dalam dalam mengeemukakan makna struktural sebuah kalimat. Dalam tulisan sistem perbedaan diatas hanya dapat dinyatakan dengan kurang sempurna dengan berbagai tanda baca, seperti huruf besar, huruf miring, tanda koma, tanda titik, tanda titik dua, tanda titik koma, tanda kutip, tanda tanya, dan tanda lain-lain.
Bandingkan kalimat berikut:
1.            Ibu guru saya akan berangkat ke luar negeri.
2.            Ibu guru saya akan berangkat ke luar negeri.
3.            Ibu guru saya akan berangkat ke luar negeri.
4.            Anak-anak sudah bangun.
5.            Anak-anak sudah bangun?
6.            Anak-anak, bangun!

Kata-kata Tugas
Kata tugas merupakan suatu unsur yang perlu diperhatikan dalam menyusun kalimat. Kata tugas dapat menentukan makna kalimat secara struktural, karena adanya kata tugas dapat melahirkan makna berbeda dengan kata yang tidak diberi kata tugas.
Kata tugas dalam bahasa Indonesia jumlahnya terbatas dan pada umumnya tidak dapat diberi imbuhan, tidak bermakna laksikal, dan tidak bertambah jumlah anggotanya. Kat tugas mengungkapkan bermacam-macam hubungan makna antara lain hubungan penugasan, pembatasan, pemillihan, persyaratan, perlawanan dan lain-lain. Kata tugas juga dapat menjadi penanda jenis kata lain dan banyak berperan dalam proses penggabungan bagian-bagian kalimat.
Kata-kata dalam bahasa indonesia dapat diklasifikasi atas kata benda (KB), kata kerja(KK), kata sifat (KS), dan kata tugas. Jadi kata-kata yang tidak tergolong dalam KB, KK, KS, adalah kata tugas, terdiri atas:
1.          Kata tugas pengantar kata benda
Misalnya: di, pada, tentang dsb.
2.          Kata tugas pengantar kata kerja.
Misalnya: akan, hendak, ingin dsb.
3.          Kata tugas pengantar kata sifat.
Misalnya: amat, sangat, paling dsb.
4.          Kata tugas pengantar transformasi.
Misalnya: dan, atau, lalu dsb.
5.          kata tugas berupa partikel.
Misalnya: lah, kah, tah, dan pun.
Bandingkan:            Saya pergi.
Saya akan pergi.
Udara sejuk.
Udara sangat sejuk.
Makan!
Makanlah!















BAB X
JENIS DAN POLA KALIMAT

Jenis-Jenis Kalimat
Kalimat menjelaskan pikiran dan perasaan pembicara atau penulis. Piran perasaan banyak ragamnya, demikian pula alasan berkomunikasi. Oleh sebab itu, jenis kalimat juga bermacam-macam. Penggolongan jenis kalimat dapat dilakukan menurut fungsinya, menurut struktur tata bahasanya, dan menurut bentuk retorikanya.
Jenis kalimat menurut fungsinya.
Menurut fungsinya kalimat terdiri atas : kalimat pernyataan atau kalimat berita, kalimat pertanyaan atau kalimat tanya, kalimat perintah dan kalimat permintaan, kalimat seruan atau kalimat seru. Jenis-jenis kalimat ini dalam bahasa lisan ditandai dengan jenis-jenis intinasi yang khas, sedangkan dalam bahasa tulisan dijelaskan dengan bernagai macam tanda baca.
Kalimat pernyataan.
Kalimat pernyataan biasa juga disebut dengan kalimat berita, yaitu kalimat yang mendukung pengungkapan informasi tentang suatu peristiwa atau kejadian. Kalimat pernyataan ini dalam bahasa lisan berakhir dengan intonasi mendatar, dan dalam bahasa tulisan berakhir dengan tanda baca titik (.).
Contoh:            Kakak membeli mobil baru/.
Hari ini hujan deras.
            Tadi pagi di jalan terjadi tabrakan.
            Ayah berkata,”Saya berangkat besuk”
            Besuk Pak Ahmad akan tiba disini pukul 07.30.

Kalimat pertanyaan.
        Kalimat pertanyaan dapat berupa bertanya dan dapat pula meminta. Kalimat ini, disampaikan jika pembucara ingin memperoleh informasi atau reaksi yang diharapkan dari lawan bicara.
Ciri-ciri kalimat pertanyaan:
1.      Menggunakan lagu tanya.
2.      Menggunakan akhiran tanya (-kah)
3.      Menggunakan kata-kata tanya.
4.      Dalam bahasa tulilsan berakhiran dengan tanda tanya.
Contoh:
Berapa harga buku ini ?
Siapakah wali anak itu ?
Ke mana dia selama ini ?
Ibu ada ?
Benarkah dia mengambil buku itu ?
Kalimat perintah dan permintaan
        Kalimat perintah bermaksuk menyuruh atau melarang lawan bicara untuk berbuat sesuatu. Perintah, permintaan atau larangan, biasanya dikuatkan dengan partikel – lah. Larangan biasanya disertai dengan kata jangan, sedangkan permintaan biasanya menggunakan kata-kata bantu ; sudi, sudilah, sudilah kiranya, tolong, sukalah, dsb. Dalam bahasa tulisan diakhiri dengan tanda seru (!).
Contoh:            Ambil barang itu !
Ambilah beberapa buah !
Sudilah anda mengambil barang itu !
Sudilaak kiranya menolong keluarga kami !
Tolong bawakan surat saya ini !
Jangan saudara mengambil barang itu !
Sekali-kali jangan mengambil barang orang !
Kalimat seruan
        Kalimat seruan atau seru mengungkapkan perasaan yang kuat dan mendadak. Kalimat seru biasanya terdapat dalam bahasa lisan. Kalimat seru ditandai dengan kata-kata seru: alangkah, aduh, aduhai, wahai, wah, oh, amboi, dsb. Dalam bahasa tulisan diakhiri dengan tanda seru (!).
Contoh :           Ini adalah cobaan bagiku !
            Alangkah indahnya pemandangan di pantai Losari dikala senja !
Aduh, luar biasa nakal anak itu !
Wahai generasi muda, berbuatlah sesuatu untuk negara dan bangsa !
Jenis Kalimat Menurut Struktur Tata Bahasanya
        Berdasarkan strukturnya, kalimat dapat dibagi atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Kalimat majemuk dapat bersifat setara atau koordinatif, tidak setara atau subordinatif, dan yang bersifat campuran atau ordinatif – subordinatif. Sesuai dengan pokok pikiran yang dikandung ketiga jenis kalimat itu dapat dipakai dalam karang-mengarang, yaitu gagasan yang tunggal dinyatakan dalam kalimat tunggal, sedangkan gagasan yang kompleks dinyatakan dalam kalimat majemuk.
Kalimat tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimatyang hanya satu unsur pembentuknya, yaitu terdiri atas satu subyek, satu predikat, atau satu obyek dan keterangan.
Contoh:
 Ia  berjalan kaki.
 (S)       (P)

Mobil sedan itu  mahal.
         (S)                           (P)
Didi  mengendarai  mobil  dengan kencangnya.
(S)          (P)        (O)                   (K)
Rektor Unhas  meresmikan  gedung laboratorium.
        (S)                                    (P)                                           (O)
Kalimat majemuk setara
        Kalimat majemuk setara terdiri dari dua atau lebih suku kalimat yang bebas. Gagasan yang sama-sama penting faktor-faktornya, berupa kalimat tunggal dituangkan dalam kalimat majemuk setara. Dalam penulisannya, tanda koma digunakan untuk memisahkan kalimat setara yang satu dengan kalimat setara berikutnya yang didahului dengan kata-kata penghubung yang menyatakan pertentangan seperti tetapi dan melainkan. Jika suku-suku itu banyak dapat dipakai tanda titik koma.
Contoh:            Tiba-tiba ia terkejut dan melompat ke tepi jalan.
Ali pandai dan rajin, tetapi adiknya malas lagi bodoh.
Buku itu bukan buku saya, melainkan buku teman saya.

Kalimat majemuk tak setara
        Kalimat majemuk tak setara, atau yang biasa dissebut dengan kalimat majemuk bertingkat terdiri atas satu suku kalimat yang bebas dan saatu atau lebih suku kalimat yang tak bebas. Suku kalimat yang bebas disebut suku induk atau induk kalimat, seddangkan suku yang tak bebas disebut suku anak atau anak kalimat.
        Jalinan kalimat majemuk tak setara menggambarkan taraf kepentingan yang berbeda-beda diantara gagasan yang majemuk. Inti gagaan dituangkan kedalam induk kalimat, sedangkan peralihan dari suatu pandangan waktu, sebab akibat, tujuan, yarat dan sebagainya, dalam aspek yang lain terungkap dalam anak kalimat. Induk kalimat dan anak kalimat itu akan kelihatan dari susunanya.
Contoh:            Paman datang ketika kami sedang makan.
Ujiannya berhasil karena ia rajin belajar.
Saya tidak akan datang kalau hari hujan..
Penulisan tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimat.
Contoh:            Ketika kami sedang makan, paman datang.
Karena dia rajin belajar, ujiannya berhasil.
Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.

Kalimat majemuk campuran
        Hubungan antara suku-suku kalimat itu dapat sederajat dan bertingkat. Hubungan itu terjadi kalau dalam kalimat kalimat majemuk terdapat paling kurang tiga suku kalimat, sehingga terdapat dua suku kalimat yang sederajat, dan yang lain bertingkat, atau di suku kalimat yang menduduki tingkat yang lebih rendah, atau sebaliknya.
Contoh:    Kami telah menyelengggarakan malam kesenian yang dimeriahkan oleh para artis ibukota, serta dihadiri pula oleh para pemerintah kota ini.

Jenis kalimat menurut retorikanya
        Yang dimaksud retorika dalam hubungan kalimat ialah arsitektur kalimat atau bangun kalimat yang menentukan efeknya terhadap pendengar atau pembaca. Untuk mendapatkan keserasian, unsur kalimat harus disesuaikan dan dikelompokkan dan kata-kata yang tepat harus dimiliki dan ditata.
        Dari segi retorika bentuk kalimat dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Kalimat berklimaks
        Kalimat berklimaks dimulai dari unsur tambahan yang diikuti oleh unsur utama , yaitu anak kalimat - induk kalimat, sehingga membangun keterangan.
Contoh:  Adalah salahnya sendiri, ia tidak lulus.
               P   (ak)  S        S  (Ik) O
Kecuali kalau dia di jemput, dia akan datang.
              (ak)  S          P     S  (Ik)  P
Kalimat berimbang
        Kalimat berimbang berupa kalimat majemuk setara atau campuran yang strukturnya memperlihatkan kesejajaran. Gagasan yang menunjukkan penalaran yang sejalan dituangkan ke dalam bentuk kalimat yang simetris.
Contoh:            Ayah sedang membaca, ibu menjahit, dan adik bermain-main.
S                        P                   S            P                       S                   P
Pada malam hari dingin, pada siang hari panas.
             K                                P                      K                        P
Kakaknya belajar di fakultas pertanian sedangkan adiknya di fakultas hukum.
               S          P                    K                                                          S                   K
Pola-pola kalimat.
        Penentuan ragam pola kalimat dalam analisisnya menggunakan jenis atau kelas kata sebagai alat penentu tata urut unsur-unsur dalam kalimat. Struktur kata dalam pola dasar kalimat adalah menentukan saling ketergantungan, penyebaran dan tata laku sintaksis antara lenis-jenis atau kelas-kelas kata yang membangun kalimat bersangkutan.
        Wujud sebuah pola dasar sebuah kalimat hanya menyangkut tata laku sintaksis yang menyangkut tiga jenis atau kelas kata, yaitu kata benda (KB), kata sifat (KS), dan kata kerja (KK), dengan beberapa kemungkina lain. Sedangkan wujud pola dasar kalimat yang terkecil terdiri atas dua unsur jenis atau kelas kata antara yang satu dengan yang lainnya berkaitan. Namun masing-masing unsur mempunyai sifat keterbukaan untuk diperluas serta mempunyai kemungkinan untuk digantungi unsur lain. Masiing-masing unsur dapat diperluas tanpa mengganggu hubungan antara wujud terkecil dalam pola dasar kalimat bersangkutan.
        Pola dasar kalimat Bahasa Indonesia dapat terdiri atas tiga atau lima ragam, yaitu:
Pola kalimat I :              kata benda – kata benda (KB - KB)
Contoh ;     Kakak guru.
Paman pelukis.
Ayah petani .
Saya polisi.
Ibu penari.
Pola kalimat II :                        kata benda – kata sifat (KB - KS)
Contoh :     Rambutku putih.
Jakarta ramai.
Bajunya sempit.
Ibu sakit.
Ali lulus.
Mukanya cantik.
Pola kalimat III :                       kata benda – kata kerja (KB - KK)
Contoh:      Ia duduk.
Kakak berbaring.
Paman mencangkul.
Kebun dicangkul.
Ibu guru mengajar.
Ali belajar.

Pola kalimat IV :               kata benda – kata kerja – kata benda. (KB – KK - KB)
Contoh :     Ali berkedai nasi.
Petani mencangkul kebun.
Kebun dicangkul petani.
Adik menulis surat.
Paman mengendarai sepeda,
Ibu menjahit baju.
Pola kalimat V : kata benda – kata kerja – kata benda – kata benda (KB – KK – KB - KB)
Contoh:   Ibu membuat adik boneka.
Ayah mengirimi kami uang.
Ibu guru menganjar kami bahasa indonesia.
Murid-murid belajar bahasa Inggris disekolah.




Anonymous said...

pertamax gan ^^
komplit pisan euy... :)

Unknown said...

tolong sertakan sumber yg terpecaya

2 Comment On DASAR-DASAR PEMBENTUKAN KALIMAT [+] Post a Comment